“Hai, Fatimah beritahu aku dimana keberadaan Muhammad?” “Saya tidak akan memberitahu kamu.” “Dimana?” kata Umar lagi. “Saya tidak akan memberi tahu,” kata Fatimah. “Lebih baik kamu bunuh saya kalau memang maksudmu mau mencelakakan Muhammad,” kata Fatimah lagi. “Sama sekali saya tidak akan mencelakakan dia, Fatimah. Kasih tau saja dimana dia?” ujar Umar. “Darul Arqam,” kata Fatimah. Bergegas umar menuju Darul Arqam.
Saat di dalam Darul Arqam, Nabi Muhammad memang sedang berkumpul dengan para sahabat. Termasuk ada Sayidina Hamzah yang juga terkenal sebagai jawara juga. Diketuklah pintu. “Siapa di luar?” “Umar”.
Di dalam Darul Arqam ini geger sebagian sahabat, Umar datang ini pasti sebagai bencana. Tapi baginda Nabi menenangkan mereka, “Tenang, mudah-mudahan ada hikmahnya.” Sayidina Hamzah tampil, “Bukakan dia pintu. Kalau niatnya baik kita terima, kalau niatnya tidak baik, saya paling depan”.
Dibukakan pintu. Begitu dibukakan pintu, Umar masuk merangkul baginda Nabi Muhammad. Kemudian dengan tersendat, Umar mengucapkan dua kalimat syahadat, memeluk Islam.
Kegembiraan meliputi suasana ketika itu karena sebelumnya dikala Umar belum masuk Islam, dia merupakan ganjalan yang paling dikhawatirkan oleh umat Islam. Namun, setelah dia masuk Islam, jelas merupakan suatu keuntungan yang sangat besar.
Umar memeluk Islam bukan karena bujuk rayu orang, tidak karena diberikan harta, tidak karena diiming-imingi oleh kedudukan tinggi. Tetapi karena kebenaran, hidayah menembus hatinya melalui wasilah ayat dalam surat Thaha yang dibacanya melalui suhuf yang dipegang oleh adiknya sendiri, Fatimah. (Fathoni)
![]()